Rabu, 25 Mei 2011


Binatang Jinak, Sumber Penyakit

Kucing sebagai binatang peliharaan sudah ada sejak sebelum masehi. Hal itu terbukti adanya mozaik di Kota Pompei, yang melukiskan seekor kucing sedang menggigit burung.
Usaha mengembangbiakan kucing piaraan bermula pada 999 M. saat itu, seekor kucing menarik perhatian Kaisar Jepang karena beranak 5 tepat pada hari ke-10 bulan kelima. Pada abad XIV, Eropa dan Asia diserang hama tikus hitam. Tikus-tikus ini menghabbiskan isi lumbung dan menyebarkan penyakit pes. Untuk mengatasi hal itu, kucing dipelihara untuk membasmi tikus.
Di Negara-negara maju, kucing merupakan binatang peliharaan yang komersial. Terbukti dengan adanya penguburan kucing, tempat penitipan kucig, dan dokter hewan yang menangani penyakit kucing. Kucing-kucing berbulu indah, seperti Angora, Abysinia,, atau kucing Siam, banyak dipelihara di rumah, terutama bagi keluarga berada. Ada juga kuciing-kucing liar tak bertuan, yang berkeliaran di jalan dengn mencari makan di sampah-sampah.

Akan tetapi, kucing tetaplah kucing. Entah kucing rumahan atau kucing liar, dalam tubuh binatang jinak itu terselubung berbagai penyakit. Baru-baru ini, sebuah penellitian yang dilakukan di Amerika menemukan penyakit karena gigitan atau cakaran kucing yang disebut Ct Scratch Disease (CSD).CSD  ditularkanoleh bakteri Bartonella henseale  yang terdapat dalam air liur kucing. Para dokter memperkirakan bakteri tersebut berasal dari kutu kucing. Bakteri ini dapat menular kepada manusia karena cakaran, gigitan, jilatan kucing, dan mereka sering bersinggungan dengan kucing.
Bakteri Bartonella biasanyamenyerang anak-anak dibwah usia 12 tahun. Rasa sakit yang ditimbulkan cakaran kucing ini akan tampak setelah 3-10 hari. Biasanya, bakteri ini menyerang kelenjar limpa. Kelenjar limpa di daerah sekitar cakaran akan membengkak setelah 2 minggu. Cakaran atau gigitan itu akan melebar dan menimbulkan demam tinggi, pegal-pegal, dan cegukan lebih dari 2 minggu serta linu-linu pada tulang. Dalam kondisi yang tidak sehat dapat menyebabkan sakit perut, muntah dan diare. Bagi penderita yang kuat daya tahan tubuhnya, penyakit ini bisa hilang dengan sendirinya dalam jangka waktu 1 bulan. Akan tetapi, bagi penderita dengan daya tahan tubuh amat lemah, penyakit ini akan memicu terjadinya penyakit radang amandel, hepatitis, radang otak sampai radang paru-paru yang sangat membahayakan jiwa manusia.
Bulu kucing juga menarik perhatian manusia. Kucing Angora, misalnya, yang berbulu tebal dan lembut, membuat anak-anak ingin memeluk dan menciumnya. Akan tetapi, dari bulu yang lembut itulah dapat menyebabkan penyakit asma. Para penderita asa bawaan pun dianjurkan agar tidak memelihara kucing.
Kucing juga sering dituduh sebagai penyebab alergi dan toxoplasmosis. Toxoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii  dalam usus yang membahayakan kesehatan manusia, teutama wanita hamil. Toxoplasmosis biasanya diderita oleh orang yang suka mengkonsumsi daging jurang masak atau susu yang tidak dimasak lebih dulu. Kucing dapat menularkan parasit ini melalui faesesnya. Penyakit ini dapat menyebabkan bayi lahir sebelum  waktunya atau bayi lahir mati. Karena itu, wanita hamil dilarang membersihkan kotoran kucing.
Dari semua penyakit pada binatang (kucing), yang paling ditakuti adalah penyakit gila kucing atau  rabies. Pembawa penyakit ini adalah raccoon (binatang serupa kucing), rubah dan kelelawar. Walaupun insiden penyakit ini masih rendah, tapi sebaiknya kucing peliharaan divaksinasi terhadap rabies.
Kucing liar sangat rentan terhadap penyakit cacing hati. Penyakit cacing hati ini dapat menular kepada manusia melalui muntahan kucing. Dikabarkan pula cacing pita yang sangat membahayakan jiwa manusia juga terdapat pada muntahan kucing dari kucing yang tidak sehat. Karena itu, muntahan kucing harus dibersihkan dengan desinfektan.
Walaupun dalam tubuh binatang jinak ini terselubung berbagai penyakit, keberadaannya dibutuhkan manusia terhadap serangan tikus. Terus, bagaiman sikap kita dengan kucing ? Yah, hati-hati saja. Jangan terlalu akrab.

Sumber : fantasi, april

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar